Saturday, April 5, 2014

Poe Jum'at ( Hari Jum'at) & Produktivitas

Pandangan terhadap hal-hal ukhrowi (masalah-masalah keakhiratan) terkadang masih menjadi deret kesekian sebaliknya masalah keutamaan mencari dunia tetap menjadi primadona bagi setiap manusia pada umumnya. Sehingga ada pensikapan yang tidak adil terhadap keduanya dimana manusia ingin surga tetapi masih lebih mengutamakan dunia pada prosesnya. Atau boleh dikatakan seperti ini, dengan berusaha mendapatkan dunia sebaik-baiknya juga berharap surga yang sebaik-baiknya. Bisakah?
Jawabnya kan pasti Wallohu'alam bishowab, artinhya urusan itu sangat-sangat bergantung kepada keridlaan Alloh SWT, setuju. Tapi apakah ga ada parameter tuh untuk hal-hal itu, saya kira pasti ada dan harus ada sebab Alloh SWT, telah memberikan kita segalanya. Mencipta manusia dengan semua kebutuhannya, mencipta manusia dengan manual booknya, harus bagaimana dan tidak boleh bagaimana juga sudah tersedia di sisinya.

"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 10. apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 11. dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik pemberi rezki." (Qs. Al Jumu'ah: 9-11)

“Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Sekiranya orang-orang mengetahui (keutamaan) mengumandangkan azan dan shaf yang pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali harus dengan mengundi, niscaya mereka akan melakukan undian (untuk mendapatkannya).” (HR. Bukhari)

Monday, September 10, 2012

'Amal Jama'i

Serasa muda lagi ketika seseorang teman memintaku mengisi tentang 'Amal jama'i disebut juga Tieamwork (TW) sebab pesertanya sebagian besar siswa-siswi SMA disalah satu SMA Islam. Waduh ... bagaimana ya saya belum tau persis tentang amal jama'i yang dimaksud sebagai motivasi kepada mereka dalam mengemban tugasnya menjadi pengurus siswa di sekolah tersebut. Namun ga masalah yang penting bisa sharing tentang bagaimana kerjasama dalam Islam.
Aku yang dibantu shahabtku Nuge sebagai moderator segera menggelar materi tersebut, luar biasa sambutan hangat dari para peserta LDK itu, walau suasana sudah agak larut malam namun tetap segar dan antusias. 
Diantaranya yang dapat dihantarkan sebagaimana pesanan panitia 'Amal Jama'i dibatasi menjadi beberapa sub pokok bahasan:
  1. Landasan amal jama'l menurut Islam
  2. Proses pembentukan teamwork:
    1. ta'aruf
    2. tafahum
    3. ta'awun
    4. I'tsar 
  3. Kerjasama Vs. Sama-sama kerja
I'tsar ( sebagai bentuk akhlaq jama'l yang mengutamakan kekompakan antara anggota team, mendahalukan kepentingan orang lain dalam satu team dari pada dirinya). 
Bayangkan shahabat jika semangat i'tsar ini dimiliki ummat Islam bangsa Indonesia kayaknya asyik juga ya, semua mengerti status fungsi dan tanggung jawabnya sebaga pribadi dan team (jama'ah) serta sebagai bagian dari satu bangsa (ummat Islam Bansa Indonesia).

Semoga

Friday, August 31, 2012

Butir hikmah ramadhan

Hampir tak bisa kusimpulkan hikmah ramadhanku

karena semua hampir sama dengan ramadhan tahun-tahun yang lalu
sehingga kupilih hikmah terbaik menurutku pada ramadhan kali ini
walau hanya satu butir hikmah saja selengkapnya>>>

10 Putri Cantik dari Berbagai Kerajaan di Dunia

1. Carlotte Cashiaghi (Negara Marooko) usia 25 , putri dari princess Caroline bekerja sebagai editor majalah "Above" di Inggris selengkapnya

Wednesday, August 15, 2012

Aku Bukan Secangkir Kopi

Bagaimana kalau kita ngopi dulu neeh, 
tentu nanti setelah buka dong.
Kopi yang satu ini mungkin bisa melegakan suasana
atau sebaliknya...
semoga saja

selengkapnya  

JANGAN SAMPAI KEBERADAAN KITA ADALAH KETIADAAN DAN KESIA-SIAAN

Makna hidup bagi setiap orang berbeda-beda bergantung bagaimana ia memahami konsep hidup yang ia jalani. Konsep hidup dan kehidupan seseorang yang dimaksud  adalah bagaimana seseorang merumuskan awal keberangkatan (paniyatan) dan tujuan yang hendak dicapai yang berupa tergetan-targetan berjangka. Mau seperti apa, mulai dari mana, atau hendak kemana hidup ini ditujukan serta sekarang harus berbuat apa? Inilah awal pemaknaan hidup dan keidupan  seseorang. Yang pasti kejelasan dari suatu konsep hidup akan menunjukkan warna, karakter dan akhlaq  hidup seseorang. Dan Inilah makna hidup. Bagaimana dengan Anda? selengkapnya

Tuesday, August 14, 2012

Khof dan Roja


Laa tahjan - jangan bersedih, salah satu kalimat yang menjadi sebuah judul buku yang berarti "jangan bersedih" membawa kita kepada suatu pengertian bahwa kita manusia tentu sangat erat hubungannya dengan apa yang disebut sedih dan kesedihan. Semua orang pasti meraskan suatu kesedihan dulu, sekarang masa yang akan datang bahkan ketika anda membaca tulisan ini barangkali anda adalah seorang yang bersedih. ... Sekali lagi jangan bersedih.sekanjutnya

Friday, August 10, 2012

Dengarlah Ramadhan Bersya'ir

Wahai manusia aku datang kepadamu bersama keutamaan-keutamaanku. Aku adalah Syayyidussuhur, bulan yang paling utama diantara sebelas bulan Alloh yang Agung, bulan yang didalamnya perintah berpuasa bagi manusia yang beriman supaya mencapai derajat ke’arifan dan taqwa, kaenanya aku juga disebut Syahrusshiam. selanjutnya

Sunday, August 5, 2012

El-hayat: EMPAT NASIHAT

El-hayat: EMPAT NASIHAT

EMPAT NASIHAT

Seperti sebuah bahtera yang mengarungi lautan  maha luas dan dalam maka seperti itu pula manusia mengarungi hidup ini. Sifat lautan yang terkadang tenang mengenakkan terkadang pula mengguncang. persis dinamika hidup yang kita arungi. Ada badai disana, ada jerit tangis, ada takbir, ada tasbih dan ada pujian lirih. Ada kekacauan terjadi, hujan halilintar, desir angin kencang hingga badai hitam menggunung yang siap meluluh lantahkan semua yang ada dipermukaan.  Gambaran episode hidup yang terkadang kita tak menyadarinya bahwa ia adalah pesan dari sang maha kuasa. Hidup memang penuh fitnah cobaan kebaikan dan keburukan, ketika fitnah kebaikan kita tak menyadarinya pula keterpurukan tak merubah sikap, hal ihwal diri kita sebenarnya. Bagaimana kita bersikap?

Rosululloh saw bersabda:
1. Perbaharuilah perahumu karena sesungguhnya lautan itu curam dan dalam
2. Carilah perbekalan yang lengkap karena perjalanan itu sangat jauh
3.Kkurangilah beban, karena karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi
4. Ikhlaslah dalam beramal karena yang menilai baik dan buruk adalat Dzat Yang Maha Melihat

Manusia wajib bertobat,
namun meninggalkan dosa lebih wajib lagi
Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit,
namun hilangnya pahala sabar lebih sulit lagi
Perubahan zaman itu memang suatu yang aneh,
namun kelalian manusia itu lebih aneh lagi
Peristiwa yang akan terkadang terasa dekat, 
namun kematian itu lebih dekat lagi

Friday, July 27, 2012

Thursday, July 12, 2012

Sang Bidadari



Ma'afkan aku wahai isteriku,
baru kusadari bahwa tangan halusmu,
kaki mulusmu,
serta wajah cantikmu
kini telah berubah, memudar, berkerut berhias garis-garis kecil dan sedikit kasar.
Mahkotamu kebangganku tak lagi kencang sekarang, 
Sejujurnya itu sedikit mengganggu pandangan lahirku. .... Namun inilah sesalku wahai isteriku
Aku tak lagi bisa mempertahankan semua itu ... Karena sesungguhnya bukan itu yang terpenting dalam visiku, walau itupun adalah bagian yang penting bagiku.
Isteriku, ....
Tangan dan kakimu dulu begitu kuat sekuat gunung batu,
Kini tak ada lagi, hanya bisa menopang satu tubuh mungil yang bergelayutan di mahkotamu
Wajah cantikmu dengan pesona khas anugrah rabbani yang menggetarkan dawai-dawai asmara yang bergejolak didada
Kini seolah pesona khusus itu memudar, dawai-dawai asmara di dada satu demi satu menipis nyaris terpatahkan.
Wajah indah itu mulai berlukis garis-garis, gambar noktah-noktah
Isteriku, ....
Kusadari sepenuhnya lukisan garis-garis itu kamu nyatakan sebagai tanda kesungguhan bakti sucimu kepadaku,
Lukisan garis-garis dan gambar noktah itu menyisakan makna terdalam dalam hidupmu,
berarti ketulusan, kegetiran, rasa was-was, miris dan berkecamuk amuk amarah yang engkau senantiasa lerai dengan keikhlasan
Kuingat ketika engkau mengandung, melahirkan, memomong dan membesarkan anak-anak kita, satu, dua, tiga dst. ... maka bertambah sepuluh garis diwajahmu .... lelah
Kulihat mimik was-wasmu ketika aku meninggalkanmu dalam kesendirian dengan beban hidup yang demikian berat,
Kusaksikan Engkau miris, getir dan khawatir sampai bentukan garis-garis dan titik diwajah mu menjadi penyimpanan semua asa dan rasa yang mendalam.
Namun semua itu tak kau nampakan dihadapanku
karena bibirmu selelu berhias senyum yang menyejukkan.
kegetiran yang kau rasakan kian tak nampak sebab engkau poleskan sinar kesabaran di keseharian
was-was tak engkau pasangkan dalam kegundah gulanaan dihadapan anak-anak mu
sebab engkau selalu waspada akan segala akibat was-was yang terpasang pada wajah yang nanti akan terlihat anak-anak kita.
Miris tak kau larutkan di elegi pagimu, karena senandung tasbih tahmid tahlil dan takbirmu senantiasa hadir dari mulut mungilmu.
Isteriku, dengan rasa takzimku kepadamu ..... maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.
Suamimu.

Sunday, September 4, 2011

Kebahagiaan yang sama

Kebahagiaan yang sama ketika lantunan takbir, tahmida dan tahlil
terdengar hiruk pikuk ke telinga kita.
Kebahagiaan bersama ketika kita bisa berjabat tangan dan sungkeman kepada kedua orang tua kita di kampung sana atau dimanapun mereka berada.
Kebahagiaan yang sama ketika kita berjumpa karib kerabat seraya memafkan atas apa yan telah kita lakukan kepada mereka.
Kebahagiaan yang sama ketika isteri dan anak-anak kita bermohon maaf
dan kita memaafkan mereka di hari yang fitri

Kebahagiaan yang sama bagi semua insan ketika berjumpa sahabat yang sekian lama menghilang karena urusan yang berbeda, dan sekarang kesempatan berurusan sama dalam hal silaturahmi,
jabat tangan erat, peluk kasih dan linangan air mata bahagia akan sama dirasakan
kehangatan sapaan belasan tahun bahkan puluhan tahun itu kini kembali terasa ... kebahagiaan yang sama.

Si miskin dan si kaya untuk sesaat merasakan kebahagiaan yang sama, dan saat inilah yang menjadi istimewa yang kita tidak bisa membuat momen yang istimewa ini. Seumpama kita kondisikan suatu saat untuk persis sama dengan keadaan hari ini - iedul fitri .. rupa rupanya kita gak sanggup dan bakalan gak sanggup ... karena itu semua kuasa Tuhan - Alloh Subhanahu Wata'ala.

Subhanalloh, di saat yang sama inilah semua ummat muslim merasakan kebahagiaan yang sama.

Yaa Alloh sungguh moment yang engkau ciptakan ini tidaklah sia-sia bagi fakir-miskin, dhu'afa, para aghnia, jutawan - milyarder dan segenap lapisan masyarakat muslim. Maka hindarkan kami dari kepongahan mengisi momen bahagia ini kini dan nanti jika Engkau berkenan menyampaikan kami padanya. Maka hindarkan kami dari azab neraka, amiin yaa robbal'alamiin.

Wallohu'alam

Thursday, August 25, 2011

RAMADHAN DAN KE-RIDLO-AN


Lantunan itu sering kudengar, bait-bait dua itu sering aku dengar, tepatnya jani-jani itu sering kudengar juga pernah dan sering kuucapkan'

" Roditubillahi Robba,
Wabil Islami diina,
Wabi Muhammadin nabiya wa Rosula "


Sejuk, indah dan syarat makna mendengarnya namun berdegup kencang dda ini ketika mengucapkannya. Bagaimana tidak setelah sekian lama aku ucapkan kata itu sejak dulu belajar ngaji hingga kini mengajar ngaji, kalimat yang sejuk syarat makna ini begitu membuatku miris, bagaimana kjika aku tak bisa tunaikan jani-janji itu,

Aku Ridlo Alloh sebagai tuhanku
aku ridlo Islam sebgai agamaku
dan aku rido nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rosulku.


Aku baru tahu waktu itu tanpa mengerti apa maksudnya, kini aku memahami bahwa hidup hakikatnya merupakan sebuah proses untuk membangun sebuah keridloan, membangun sebuah mentalitas menerima atas apa yang Alloh sebagai Tuhan berikan. Menerima Alloh sebagai Rob / tuhan yakni
sebagai pencipta kita,
sebagai pemberi rizki kepada kita,
sebagai pengatur hidup dan kehidupan kita,
sebagai pemelihara kita
sebagai pengajar / al'aliiim kepada kita
dankepada seluruh makhluqnya seantero jagat raya ini.

berarti inilah jani-janji kita:
1. Kita akan ridlo kepada Alloh sebgai pencipta kita, tidak pernah ada niyatan kita merubah bahkan menodai apa yang telah Alloh firmankan atas penciptaan kita baik secara proses maupun hasil dari apa yang diciptakan Nya.
2. Kita akan ridlo Alloh sebagai pemberi rizki kepada kita, artinya besar kecil sempat atau lapang rizki seumbernya adalah Alloh jadi bergantung Alloh semua yang kita dapatkan hari ii dan esok,kewajiban kita hanyalah berbuat, bekerja sesuai aturannya. Jangan sampai kita cacat dalam prosesnya dan jangan pula kita cacat dalam itikad setelah mendapatkannya. Karena ada pertanyaan mengenai hal rizki ini, dari mana mendapatkannya, dengan cara apa, kemudian disalurkan kemana itu rezeki?
3. Kita akan ridlo dengan segala aturan, titah dan perintah Alloh SWT., berarti hanya aturan Alloh yang mesti dipatuhi dan aturan - atura turunannya (artinya segala aturan yang bersumberkan kepada Nya).Jangan sampai kita buat aturan sendiri berdasarkan dhon / prasangka kita, karena jebakan dari prasangka adalah keindahan dan kenistaan menurut persepsi kita tidak dengan persepsi Alloh, yang membuat manusia menilai perbuatnnya dengan oaknya terjadilah penyimpangan dan yang seharusnya .....
4. Kita akan ridlo dengan pemeliharaan Alloh sebagai Al mudabbir / oengatur pemelihara. Jangan sampai cara-cara memlihara kita jauh dari kiat-kiat alloh memelihara makhluqnya. Ada bagian kita dan ada bagian Alloh. pemeliharaan otomatis oleh Alloh dan semi otomatis ada bagian diri kita melakukannya.
5. Kita akan ridlo kepada Alloh yang memberikan, mengkaruniakan kita ilmu-ilmunya. Jangan berbesar hati atas ilmu yang kita dapatkan seolah tidak ada peran alloh di sana,padahal karena Allohlah burung bisa terbang ikan bisa berenang dan kita bisa berkarya dengan cita reka karyanya. Semua Alloh yang mengajarkannya tanpa menapikan guru guru kita.
.....
Nah sejau ini sudahkan kita terima semua itu, atau kita masih pongah dengan keakuan kita yang ga seberapa?
Sahabat mari dipenghujung bulan suci Ramadlan ini,kita menghitung berapa kali amadalan kita lalui, berapa kali kita puasa di dalamnya dan berapa tingkatan kesabaran dan keridloan (penerimaan) kita atas status dan fungsi Alloh sebagai tuhan kita? Sudahkan kita terima kuasa ciptaan Nya, peraturan Nya, Pemeliharaan Nya dan Ke'aliman Nya?
semoga dalam diri kita telah terbentuk mentalitas sabar dan ridlo untuk kita arungi sebelas bulan mendatang dan sisa akhir hidup kita ke depan, wallohu'alam

Friday, August 6, 2010

Resensi Buku “Alumni Universitas Ramadhan yang Sukses” Resensi Buku

6/8/2010 | 26 Sya'ban 1431 H
Oleh: Tim dakwatuna.com


dakwatuna.com – Nilai bulan suci Ramadhan sangatlah luas. Setiap kali kita menggali, maka semakin dalam kita mendapatkan hikmah dan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Inilah rahasia kenapa Rasulullah saw. memberi kabar gembira kepada para sahabatnya ketika bulan suci ini tiba: “Sunggguh telah datang menemui kalian, bulan penuh berkah…” Subhanallah! Ungkapan berkah itu mewakili seluruh nilai dan makna kebaikan dalam Islam.

Bulan suci Ramadhan mengkondisikan seorang muslim untuk hidup secara seimbang. Seimbang dalam materi dan ruhani, seimbang dalam fisik dan qalbu, sekaligus seimbang dalam urusan duniawi dan ukhrawi. Ini dibahas penulis di bagian awal dari buku ini.

Keagungan dan keberkahan Ramadhan bisa diraih ketika gelora semangat dalam diri seorang muslim menguat dan mampu menaklukkan syahwat diri, sebab hanya jiwa yang menggelora dan tekad yang membaja yang mampu melaksanakan perintah Allah swt. Bukankah dulu langit, bumi, dan gunung enggan menerima amanah ibadah, lalu dengan beraninya manusia menerimanya. Sungguh, ini membutuhkan semangat berlebih dan tekad yang kuat, tidak terkalahkan oleh kemalasan dan kekerdilan jiwa.

Setelah pembahasan ini, penulis juga menyuguhkan tips-tips ringan dan teknik-teknik sederhana agar keagungan dan keberkahan bulan suci Ramadhan ini bisa diraih. Mengawali Ramadhan dengan berdoa, memuji Allah, bergembira, membuat target, menyiapkan rencana, melaksanakan rencana tersebut dan mengevaluasinya, serta mengakhirinya juga dengan doa, sehingga seakan semua amaliyah ini menjadi siklus yang terus berputar, saling merajut dan menguatkan.

Penulis juga menghadirkan study komparatif dan informasi pembanding antara perilaku shalafalus shaleh di dalam mengisi Ramadhan dan antara generasi sekarang ini. Kesuksesan bisa diukur jika ada pembandingnya. Tentu, salafus shaleh ibaratnya sebuah kaca benggala bagi generasi sekarang dalam upaya terus melakukan perbaikan diri. Sebab, “Umat zaman sekarang ini tidak akan menjadi baik, kecuali jika umat zaman ini mengikuti apa yang menjadikan umat terdahulu menjadi baik.” (Imam Malik ra.)

Bagi yang tidak siap dengan agenda kegiatan Ramadhan, bulan ini lewat serasa singkat dan cepat berlalu. Sehingga dibutuhkan upaya serius untuk mengatur waktu kita. Masing-masing kita dikaruniai Allah swt. waktu 24 jam sehari, semua sama. Namun ada model orang yang bisa mengendalikan dan mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, waktunya sangat berkah. Namun tidak sedikit orang yang dikendalikan waktu, kelihatan sibuk dengan urusannya sendiri, sampai lupa dengan ibadah, lupa kepada Allah swt., padahal ini di bulan suci. Bagaimana cara mengendalikan waktu?, itu juga dibahas di buku ini.

Ada pernik-pernik ibadah yang secara khusus hendaknya dilaksanakan, untuk meraih berjuta kebaikan. Contohnya tilawatul Qur’an dengan target khatam bilangan tertentu, shalat berjama’ah di masjid dengan tidak ketinggalan takbiratul ihram imam rekaat pertama, shalat 2 reka’at sunnah dhuha setelah matahari terbit, yang merupakan rangkaian shalat subuh berjama’ah dengan tidak meninggalkan masjid terlebih dahulu, doa tidak tertolak, melaksanakan shalat sunnah dengan bilangan tertentu, melaksanakan umrah, dan meraih kebaikan sepanjang umur, meraih lailatul qadar. Semua ini penulis hadirkan dengan kupasan sederhana dengan dalil-dalil yang shahih.

Karana Ramadhan juga memberi kesempatan bagi umat muslim untuk mendapatkan sebanyak-banyak ilmu, itu terlihat dari adanya berbagai kegiatan keilmuan sepanjang hari Ramadhan, maka dalam buku ini juga penulis hadirkan ilmu dan informasi yang terkait dengan sejarah penting umat Islam dan tokoh besar Islam yang terjadi di bulan suci ini. Subhanallah!, ternyata hari-hari Ramadhan merekam jejak prestasi gemilang umat Islam, dalam lintasan sejarahnya.

Sukses dalam suatu hal tertentu, ditentukan oleh bagaimana kondisi akhir dari hal tersebut. “Al-amru bilkhawaatim.” Sebut saja, sebagai misal lari maraton; sang pemenang adalah yang mampu melampai lawan-lawannya dan sampai finish di paling depan. Begitu juga dengan ibadah Ramadhan, yang sukses dari ibadah ini, bukan yang rajin di awal Ramadhan saja, setelah itu menghilang dari kebaikan dan ibadah, wal-‘iyadzubillah. Tapi muslim yang sukes menjalani Ramadhan adalah yang mampu mengawali dan mengakhiri Ramadhan dengan istiqamah, beri’tikaf untuk meraih lailatul qadar.

Yang penting untuk dijaga adalah bahwa seorang muslim, tidak musiman dalam melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah swt. Kapan pun dan di mana pun, seorang muslim selalu menyenandungkan: “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadah sunnahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah. Tuhan seru sekalian alam.” Sehingga ia tidak menjadi muslim yang taat di bulan suci Ramadhan saja, namun berubah seperti semula, atau kembali ke habitatnya semula tanpa ada perubahan dalam hidupnya. Sehingga wasiat yang perlu kita pegang teguh adalah: “Jadilah kamu hamba Rabbani, janganlah menjadi hamba Ramadhani.”

Muslim yang demikianlah yang sukses dari penggemblengan univeristas Ramadhan, ia menjadi alumni yang berprestasi; prestasi taqwa, prestasi Ar-Rayyan, insya Allah.

Semoga buku ini bisa menjadi upaya pencerahan umat Islam dalam mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Karena Ramadhan merupakan hadiah Allah swt. untuk insan beriman, sehingga kehidupan pribadinya, keluarga, masyarakat bahkan kehidupan negerinya akan berubah menjadi lebih baik. Sebab kesuksesan suatu ibadah harus berdampak pada perubahan perilaku individu, kelompok, masyarakat dan bangsa. Berbagai penyakit individu dan sosial semoga bisa dikikis dengan bukti suksesnya umat Islam dalam menjalani amaliyah ibadah, wabilkhusus ibadah Ramadhan, insya Allah. []